Skip to content

February 28, 2012

Muslimin yang menolak Assad sebagai Tuhan, disiksa hingga kehilangan nyawanya

SURIAH (Arrahmah.com-  Amnesti Internasional dan organisasi-organisasi hak asasi manusia (HAM) telah menerbitkan sebuah laporan baru yang mengejutkan dari pegawai mereka, Neil Sammond. Laporan tersebut mengungkapkan beberapa rincian dari penyiksaan keji terhadap Muslimin di Suriah oleh berandalan Alawiah (salah satu sekte Syi’ah), seperti yang dilaporkan UmmaNews.

Setiap bulannya kekejian yang dilakukan oleh Sekte AlawiaH yang pholitheis (Musyrik), semakin meningkat parah. Beberapa bulan lalu ada laporan yang menyatakan bahwa para militan Assad telah menelanjangi 9 Muslimah dan memaksa mereka berjalan di jalanan kota.
Tidak lama setelah itu, para aktivis HAM melaporkan pembunuhan seorang Muslimah Suriah, seorang mujahidah aktif yang melawan rezim Assad. Setelah membunuh Muslimah tersebut, orang-orang biadab Alawiah memutilasi dan menguliti Muslimah tersebut.

Setelah itu ada laporan yang mengungkapkan bagaimana Para Musyrikin di Suriah memenggal kepala bayi berusia tujuh bulan dan menggantungnya di depan pintu. Setelah melakukan itu, mereka berusaha untuk menyerang ayah bayi malang tersebut untuk menyerah kepada rezim.

Dan sekarang, Aktivis HAM internasional mengungkapkan tentang apa yang terjadi di penjara Alawiah, dimana kaum Muslimin yang bertauhid lurus ditahan dan disiksa karena menolak menerima Assad sebagai Tuhan hingga kehilangan anggota badan dan nyawanya.

Neil Sammonds mengunjungi rumah sakit al-Ramtha, beberapa kilometer dari perbatasan provinsi Deras, Suriah, dimana ia bertemu dengan Abu Suhayba yang menceritakan kisahnya kepada Neil.

Dua hari sebelum pertemuan, Abu Suhayba dan sebagian besar penduduk dari Al-Taibe telah melarikan diri dari kota setelah mendengar militant Alawiah telah mendekat.

Abu Suhayba, seorang pria yang fasih yang berumur sekitar lebih dari 40-an, mendeskripsikan bagaimana ia dan sekelompok Muslim lainnya menyaksikan peristiwa penembakan. Saat sejumlah rudal anti-pesawat diluncurkan ke arah mereka, salah satu rudal yang meledak melontarkan proyektil sebesar anggur dan mengenai Abu Suhayba. Proyektil tersebut masuk ke kakinya lalu keluar menembus paha kiri, dan memotong ibu jari kiri Abu Suhayba.

“Daging dan darah saya terpercik ke wajah saya,” katanya.

Diantara beberapa orang yang terluka, ia dilarikan ke sebuah rumah kosong dengan menggunakan sepeda motor, dimana ia mendapatkan pertolongan pertama sekedarnya sebelum dibawa keluar melintasi perbatasan.

Neil Sammonds mengunjungi kamp pengungsian di al-Ramtha, dimana ia menemukan anak-anak muda Muslim di sebuah ruang bawah tanah berkumpul mengelilingi sepasang gas pemanas.

Penduduk kota Dera’a, Na’ime, al-Traibe, De’al, al-Jiza, Tasil dan Kaheel menceritakan bagaimana Sekte Alawiah menembakkan rudal-rudal, mortir dan peluru-perluru senapan mesin berat lainnya ke rumah-rumah mereka.

Para militan Assad biadab telah menyerbu setiap rumah, menangkapi dan menganiaya kaum Muslimin pria dan anak-anak yang masih tinggal disana.

Pekan lalu para Musyrikin membunuh puluhan Muslim di Dera’a, dan menjarah uang, perhiasan, komputer dari rumah-rumah mereka, serta merusak generator listrik.

Abu Suhaib berkata: “Saya telah melihat banyak orang disekeliling saya yang ditembak mati, tapi saya tidak takut mati. Yang saya takutkan adalah jika saya tertangkap”.

Penduduk Suriah lainnya, yang bertemu Neil Sammonds di al-Ramtha, mengungkapkan tentang penyiksaan yang dilakukan Sekte Alawiah kepada Umat Muslim di kamp konsentrasi Assad.

Umat Muslim menjadi sasaran penyiksaan yang berlangsung mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu. Tanpa henti, pukulan, tendangan, diinjak-injak, dan pemukulan dengan menggunakan pentung senapan dari baja, tongkat, atau kable adalah hal-hal yang lumrah di kamp konsentrasi Alawiah tersebut.

Tariq Ismail al-Hariri (27), berhasil kabur dari al-Taiba ke Yordania sekitar 20 hari yang lalu setelah militant bersenjata Alawiah datang kepadanya untuk menahannya ke-tiga kalinya.

Pada masa penahanan pertama dari dua kali penahanannya, selama hampir 5 bulan, dia ditahan bersama 5 orang Muslim lainnya di dalam satu sel penjara berukuran 1 x 1.7 meter.

Selama 18 hari berturut-turut Tariq Ismail al-Hariri mengalami berbagai macam penyiksaan, salah satunya disebut “dulab”( kakinya dicambuk 100 kali). Penyiksaan lainnya disebut posisi “shabeh” (dimana pergelangan kedua pergelangan tangannya diikat menjadi satu lalu diletakkan di atas tanah, disetrum dan dipukuli – termasuk pemukulan menggunakan pentungan kepada alat kelaminnya.)

Pada masa penahanannya yang kedua, para pengikut Alawiah melakukan siksaan “dulab” kepadanya, sebanyak 4 kali. Dia ditempatkan bersama 24 Muslim lainnya di dalam sebuah sel berukuran 4 x 3 meter. Mereka disiksa dan dipukuli dalam waktu yang lama. Selama 24 jam mereka hanya dibiarkan menggunakan celana dalam.

Ismail juga mengatakan bagaimana orang-orang Alawiah pernah memecahkan sebuah botol yang terbuat dari kaca, lalu menusukkannya ke anus salah seorang Muslim.

Muslim lainnya disiksa oleh orang-orang biadab Alwiah dalam posisi “Shabeh”, alat kelaimnnya diikatkan ke sebuah kantong air yang besar, yang kemudian dengna keras ke sekitar ruangan. Seorang Muslim lain yang lebih tua, yang juga ditempatkan dalam sel yang sama dengan mereka, meninggal karena tidak adanya penanganan medis.

“Anda melihat mereka mati di depan anda, dan tahu bahwa tidak ada yang dapat anda lakukan,” ujar Ismai.

Hal mengejutkan lainnya, cerita mengerikan diungkapkan oleh Jihad Ahmed Diab (34), seorang pegawai lama di sebuah toko pakaian di kota Dera’a.

Ditangkap dan ditahan pada bulan Desember 2011, ia ditempatkan bersama 32 tahanan lainnya di dalam sel berukuran 6 x 6 meter.

Diab beberapa kali disiksa dengan cara disetrum, kadang-kadang ia dipukuli secara brutal dan digantung dalam posisi “shabeh”. Seperti Muslim lainnya, ia tetap teguh dengan ke-Islamannya dan melaknati para pengikut sekte Alawiah.

“Ketua Kelompok cabang Alwiah (nama dirahasiakan) menunjukkan kepada saya foto Bashar al-Assad ketika saya di ruang penyiksaan, “Dia adalah Tuhan-mu”, katanya. “Hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah”, kata saya, dan saya merobek foto tersebut dari tangannya.

Diab beberapa kali disiksa dengan cara disetrum, kadang-kadang ia dipukuli secara brutal dan digantung dalam posisi “shabeh”. Seperti Muslim lainnya, ia tetap teguh dengan ke-Islamannya dan melaknati para pengikut sekte Alawiah.

Diab melanjutkan ceritanya, “Ketua Kelompok cabang Alawiah (nama dirahasiakan) menunjukkan kepada saya foto Bashar al-Assad ketika saya di ruang penyiksaan, “Dia adalah Tuhan-mu”, katanya. “Hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah”, kata saya, dan saya merobek foto tersebut dari tangannya.

“Karena itu, dia menendangi saya sepanjang menuruni tangga dua lantai… kemudian dia memerintahkan agar saya diikat pada posisi salib, dan mengikatkan sebuah dinamit seukuran pulpen pada telapak tangan kiri saya. “Booom”, dinamit tersebut meledak, meledakkan sebagian tangan saya. Darah mengalir kemana-mana.”

Diab dibawa ke rumah sakit, dimana dia berhasil melarikan diri, dan kemudian berhasil melintasi perbatasan ke Yordania. Setelah itu, militant bersentaja Alawiah bersumpah kepada keluarga Diab bahwa ia akan dieksekusi mati jika ditemukan.

source: Kavkaz Center

(siraaj/the choose one/arrahmah.com)

Comments are closed.